AS & Iran Sepakat Dialog Nuklir di Jenewa. Amerika Serikat dan Iran secara resmi sepakat menggelar putaran dialog nuklir langsung di Jenewa, Swiss, mulai 15 Februari 2026. Kesepakatan ini diumumkan bersamaan oleh juru bicara Departemen Luar Negeri AS dan Kementerian Luar Negeri Iran pada 2 Februari 2026 malam waktu Washington. Pertemuan tingkat tinggi pertama sejak 2018 ini menjadi sinyal de-eskalasi setelah ancaman keras Donald Trump pada akhir Januari lalu yang memberikan tenggat 60 hari bagi Teheran. Delegasi AS dipimpin Utusan Khusus untuk Iran Robert Malley, sementara Iran diwakili Wakil Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Agenda utama meliputi pembatasan pengayaan uranium, akses inspektur IAEA, dan pencabutan sebagian sanksi ekonomi. Langkah ini langsung menurunkan ketegangan regional dan memicu penurunan harga minyak dunia lebih dari 4% dalam sehari. REVIEW FILM
Latar Belakang dan Proses Menuju Kesepakatan: AS & Iran Sepakat Dialog Nuklir di Jenewa
Dialog ini lahir dari tekanan ganda: ancaman militer Trump yang disertai penguatan armada AS di Teluk Persia, serta tekanan ekonomi internal Iran yang semakin berat akibat sanksi dan inflasi di atas 40%. Pada 28 Januari, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian menyatakan kesiapan Teheran untuk “dialog serius tanpa prasyarat” jika AS menunjukkan itikad baik. Respons positif dari Washington datang dua hari kemudian melalui saluran Oman sebagai mediator tidak resmi.
Kesepakatan Jenewa dicapai setelah serangkaian pertemuan teknis tidak langsung di Muscat dan Doha sepanjang Januari. Kedua pihak sepakat tidak membahas isu non-nuklir seperti program rudal balistik atau dukungan proksi dalam putaran pertama ini. Pertemuan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari (15–17 Februari) dengan format dua-plus-dua: AS dan Iran sebagai pihak utama, didampingi perwakilan Uni Eropa dan PBB sebagai fasilitator. Jika berhasil, akan dibuka jalur untuk pertemuan tingkat menteri luar negeri pada Maret 2026.
Isi Pembahasan yang Diharapkan: AS & Iran Sepakat Dialog Nuklir di Jenewa
Delegasi AS menargetkan komitmen konkret dari Iran untuk:
Menghentikan pengayaan uranium di atas 20% dan mengurangi stok uranium kaya hingga di bawah batas JCPOA
Membuka akses penuh inspektur IAEA ke fasilitas Fordow dan Natanz dalam waktu 30 hari
Menghentikan dukungan senjata kepada Houthi di Yaman sebagai gesture good will
Iran, di sisi lain, menuntut:
Pencabutan sanksi sekunder terhadap sektor minyak, perbankan, dan perdagangan internasional
Jaminan bahwa AS tidak akan keluar lagi dari kesepakatan seperti pada 2018
Pengakuan hak Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir sipil
Kedua pihak sepakat bahwa hasil putaran Jenewa akan menjadi dasar bagi kesepakatan sementara (interim deal) sebelum akhir 2026, dengan target JCPOA baru yang lebih fleksibel dan realistis.
Reaksi Dunia dan Dampak Ekonomi
Israel menyatakan “keprihatinan mendalam” dan menegaskan bahwa “tidak ada kesepakatan yang dapat diterima tanpa pembongkaran total program nuklir Iran”. Perdana Menteri Netanyahu memperingatkan bahwa Israel tetap berhak melakukan tindakan sendiri jika kesepakatan dianggap membahayakan keamanan nasional.
Uni Eropa menyambut baik langkah ini sebagai “kembalinya diplomasi” dan siap memfasilitasi pertemuan lanjutan. Rusia dan China mendukung penuh dan menawarkan diri sebagai penjamin kesepakatan. Harga minyak Brent langsung turun 4,3% menjadi US$ 85,20 per barel karena berkurangnya risiko konfrontasi di Teluk Persia. Nilai tukar rial Iran menguat 3,8% terhadap dolar dalam sehari, sementara indeks saham Tehran mengalami rebound signifikan.
Kesimpulan
Kesepakatan dialog nuklir AS-Iran di Jenewa menjadi angin segar di tengah ketegangan yang hampir memuncak di akhir Januari 2026. Tenggat 60 hari yang diberikan Trump ternyata membuahkan hasil awal yang positif, meski masih jauh dari kesepakatan final. Pertemuan 15 Februari akan menjadi ujian pertama bagi itikad baik kedua belah pihak. Jika berhasil, dunia bisa bernapas lega karena risiko konflik terbuka di Timur Tengah berkurang signifikan. Namun jika gagal, ancaman sanksi maksimum dan opsi militer akan kembali mengemuka. Semua mata kini tertuju pada Jenewa—semoga diplomasi menang atas konfrontasi, demi stabilitas kawasan dan harga minyak yang lebih terkendali. Langkah pertama sudah diambil; sekarang tinggal menunggu hasil konkret.