BNPB Pantau Banjir & Longsor Awal Februari. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus meningkatkan pemantauan intensif terhadap potensi banjir dan longsor yang masih mengancam berbagai wilayah Indonesia di awal Februari 2026. Hingga 4 Februari, curah hujan tinggi akibat pengaruh La Niña dan angin muson barat laut telah memicu banjir di 12 provinsi serta longsor di 8 provinsi. Ribuan rumah terendam, ratusan titik longsor terjadi, dan puluhan ribu warga terdampak. BNPB menyatakan status siaga tinggi di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua, dengan fokus utama pada daerah aliran sungai besar serta lereng-lereng curam yang sudah jenuh air. Upaya evakuasi, distribusi logistik, dan koordinasi antarinstansi dipercepat untuk mengurangi korban jiwa dan kerugian materi. INFO PROPERTI
Wilayah Terdampak Paling Parah: BNPB Pantau Banjir & Longsor Awal Februari
Sumatera menjadi wilayah dengan dampak terluas. Banjir masih melanda Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, dan Bengkulu. Di Medan dan Deli Serdang, genangan air setinggi 1–1,5 meter menggenangi permukiman padat. Sungai Belawan dan Sungai Deli meluap di beberapa titik. Di Sumatera Barat, longsor berulang terjadi di jalur Padang–Painan dan Padang–Bukittinggi, memutus akses jalan utama selama beberapa jam. Bengkulu mencatat banjir bandang di daerah lereng Bukit Barisan, merusak puluhan rumah dan sawah.
Jawa Barat dan Banten juga terdampak signifikan. Sungai Citarum, Cisadane, dan Ciliwung mengalami kenaikan debit yang cepat, menyebabkan banjir di Bekasi, Karawang, Tangerang, dan Bogor. Longsor kecil hingga menengah terjadi di Cianjur, Sukabumi, dan Bogor Selatan, menutup beberapa ruas jalan menuju Puncak. Di Jawa Tengah, banjir rob diperparah hujan darat melanda pesisir Demak, Jepara, dan Pekalongan, merendam ribuan hektare tambak udang dan garam.
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah mengalami banjir luas akibat luapan Sungai Barito dan Kapuas. Banjarmasin dan sekitarnya kembali tergenang, memengaruhi aktivitas pasar dan transportasi sungai. Di Sulawesi, Makassar dan sekitarnya mencatat genangan parah, sementara Papua dan Maluku menghadapi risiko banjir bandang serta longsor akibat curah hujan ekstrem di wilayah perbukitan.
Upaya Penanganan dan Status Kesiapsiagaan: BNPB Pantau Banjir & Longsor Awal Februari
BNPB telah mengaktifkan 24 posko utama di provinsi-provinsi terdampak dan mengerahkan lebih dari 5.000 personel gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, Tagana, dan relawan. Distribusi logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan obat-obatan diprioritaskan ke daerah yang sulit dijangkau. Helikopter dan perahu karet digunakan untuk evakuasi di lokasi banjir dalam dan longsor. Di beberapa kabupaten, tenda pengungsian darurat didirikan di lapangan sekolah dan balai desa.
Pemantauan dilakukan melalui satelit, radar cuaca, dan sensor debit sungai secara real time. BNPB bekerja sama dengan BMKG untuk memperbarui peringatan dini setiap 3–6 jam. Masyarakat diimbau untuk segera mengungsi jika mendengar sirene atau mendapat peringatan dari RT/RW. Di daerah rawan longsor, warga diminta menghindari lereng curam, tidak berteduh di bawah tebing, dan melaporkan retakan tanah segera.
Pemerintah daerah juga menggelar operasi pasar murah dan bantuan langsung tunai untuk keluarga terdampak. Koordinasi dengan Kementerian PUPR dan Kementerian Sosial diperkuat untuk mempercepat perbaikan infrastruktur darurat dan penyaluran bantuan.
Kesimpulan
Pemantauan ketat BNPB terhadap banjir dan longsor di awal Februari 2026 menunjukkan bahwa ancaman hidrometeorologi masih tinggi meski puncak musim hujan sudah mulai mereda di beberapa wilayah. Ribuan warga terdampak dan kerugian ekonomi terus bertambah, terutama di sektor pertanian dan perikanan pesisir. Koordinasi cepat antarinstansi serta kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penentu untuk menekan jumlah korban jiwa dan mempercepat pemulihan.
Saat ini, yang terpenting adalah menjaga disiplin terhadap peringatan dini dan tidak memaksakan aktivitas di zona bahaya. Jika hujan mulai berkurang seperti prediksi BMKG dalam beberapa hari ke depan, pemulihan bisa berjalan lebih lancar. Namun selama periode siaga ini berlangsung, solidaritas dan kesiapsiagaan tetap harus dijaga agar dampak bencana tidak semakin meluas.