ABAC 2026 Jakarta: Fokus Investasi & Perdagangan. Indonesia kembali menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Business Advisory Council (ABAC) pada 8–10 Februari 2026 di Jakarta. ABAC 2026 yang mengusung tema “Investasi Berkelanjutan dan Perdagangan Inklusif untuk Asia-Pasifik yang Tangguh” dihadiri lebih dari 300 delegasi dari 21 ekonomi anggota APEC, termasuk para pemimpin bisnis besar, CEO perusahaan multinasional, dan perwakilan kamar dagang. Pertemuan ini menjadi forum strategis pertama setelah KTT APEC 2024 di Peru dan diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret bagi para pemimpin negara anggota saat KTT APEC 2026 nanti di Korea Selatan. REVIEW FILM
Fokus Utama: Investasi Berkelanjutan: ABAC 2026 Jakarta: Fokus Investasi & Perdagangan
Sesi pertama ABAC 2026 yang digelar di Hotel Mulia Senayan pada 8 Februari langsung membahas isu investasi berkelanjutan. Delegasi dari Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat menekankan pentingnya aliran modal hijau ke proyek energi terbarukan, infrastruktur rendah karbon, dan ekonomi sirkular. Indonesia sebagai tuan rumah mempresentasikan progres hilirisasi nikel, bauksit, dan komoditas kritis lainnya sebagai bagian dari strategi investasi berkelanjutan nasional.
Wakil Ketua ABAC Indonesia Rosan Roeslani menyatakan bahwa Indonesia menargetkan inflow investasi asing langsung (FDI) sebesar USD 60 miliar pada 2026, dengan 40% diarahkan ke sektor hijau dan transisi energi. Beberapa MoU bilateral dan komitmen investasi senilai lebih dari USD 8 miliar sudah ditandatangani di sela-sela pertemuan, terutama di sektor baterai kendaraan listrik, panel surya, dan hidrogen hijau.
Perdagangan Inklusif dan Ketahanan Rantai Pasok: ABAC 2026 Jakarta: Fokus Investasi & Perdagangan
Hari kedua (9 Februari) difokuskan pada perdagangan inklusif dan ketahanan rantai pasok. Delegasi Tiongkok dan Australia menyoroti risiko fragmentasi perdagangan global akibat proteksionisme dan konflik geopolitik. Indonesia mengusulkan penguatan kerja sama APEC dalam digital trade, e-commerce lintas batas, dan pengurangan hambatan non-tarif untuk UMKM.
Salah satu rekomendasi utama yang muncul adalah pembentukan “APEC Supply Chain Resilience Framework” yang mencakup diversifikasi sumber bahan baku kritis, digitalisasi logistik, dan skema asuransi rantai pasok regional. Para delegasi juga membahas percepatan implementasi APEC Internet and Digital Economy Roadmap agar UMKM di kawasan bisa lebih mudah mengakses pasar digital global.
Partisipasi Bisnis Indonesia dan Harapan Ekonomi
Indonesia menurunkan delegasi terbesar dengan lebih dari 80 pengusaha dari berbagai sektor: pertambangan, manufaktur, teknologi, agribisnis, dan ekonomi kreatif. Beberapa CEO besar seperti Erick Thohir (MIND ID), Nicke Widyawati (Pertamina), dan Kartika Wirjoatmodjo (Mandiri) aktif dalam sesi panel. Mereka menyampaikan pesan bahwa Indonesia siap menjadi hub investasi regional dengan regulasi yang semakin ramah dan insentif pajak untuk proyek hijau.
Wapres Gibran Rakabuming Raka yang hadir pada sesi penutupan menegaskan bahwa pemerintah akan terus mempercepat reformasi struktural agar target FDI 2026 tercapai. Ia juga menjanjikan kemudahan izin berusaha dan akses pasar bagi investor APEC yang berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan.
Kesimpulan
ABAC 2026 di Jakarta berhasil menjadi forum produktif yang menegaskan komitmen APEC terhadap investasi berkelanjutan dan perdagangan inklusif. Dengan lebih dari USD 8 miliar komitmen investasi yang sudah ditandatangani dan rekomendasi konkret untuk rantai pasok serta digital trade, pertemuan ini memberikan sinyal positif bagi pemulihan ekonomi kawasan pasca-pandemi dan ketegangan geopolitik. Bagi Indonesia, ABAC 2026 menjadi momentum untuk memperkuat posisi sebagai tujuan investasi utama di Asia-Pasifik, terutama di sektor hijau dan ekonomi digital. Hasil pertemuan ini diharapkan menjadi masukan kuat bagi KTT APEC 2026 di Korea Selatan. Semoga rekomendasi ABAC dapat segera diimplementasikan agar Asia-Pasifik tetap menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia yang tangguh dan inklusif.