Abu Vulkanik Semeru Capai 500 Meter Tinggi. Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas signifikan pada pagi hari 20 Februari 2026. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi terjadi sekitar pukul 07.12 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak atau sekitar 4.276 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal, condong ke arah barat daya akibat hembusan angin sekitar 10–15 knot. Erupsi ini menjadi yang ke-45 sepanjang tahun 2026 dan menambah daftar aktivitas vulkanik tinggi yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Status Gunung Semeru tetap di level III (Siaga), dan warga di sekitar kawah Jonggring Saloko serta aliran sungai berhulu Semeru diimbau tetap waspada terhadap potensi lahar hujan dan guguran awan panas. VENUE NIKAH
Kronologi Erupsi dan Dampak Langsung: Abu Vulkanik Semeru Capai 500 Meter Tinggi
Erupsi pagi itu berlangsung selama 2 menit 50 detik dengan amplitudo gempa vulkanik mencapai 22 mm. Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Gunung Sawit, Lumajang, melaporkan lontaran batu pijar dengan jarak luncur maksimal 1 km ke sektor tenggara (Besuk Kobokan dan Besuk Bang). Hujan abu tipis mulai turun sekitar pukul 07.45 WIB di beberapa desa di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo, Lumajang. Abu yang jatuh tidak terlalu tebal, tapi cukup mengganggu visibilitas di jalan nasional Lumajang–Malang segmen Senduro–Tiris. BPBD Lumajang langsung melakukan pemantauan dan membagikan masker serta air bersih ke warga terdampak. Hingga pukul 10.00 WIB, tidak ada laporan korban jiwa, kerusakan bangunan, atau gangguan penerbangan di Bandara Abdul Rachman Saleh Malang. Namun, petugas tetap menutup sementara jalur pendakian resmi melalui Ranu Pani dan mengimbau warga tidak mendekati radius 5 km dari kawah.
Pola Aktivitas 2026 dan Status Terkini: Abu Vulkanik Semeru Capai 500 Meter Tinggi
Sepanjang 2026, Gunung Semeru sudah mengalami 45 erupsi eksplosif hingga 20 Februari, dengan rata-rata 2–3 kali per minggu. Mayoritas erupsi terjadi pada malam hingga pagi hari, didominasi tipe Strombolian hingga Vulcanian dengan tinggi kolom abu 400–1.200 meter. Guguran lava pijar dan awan panas gugur masih sering terjadi, terutama ke sektor tenggara dan selatan (Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Sat, dan Besuk Kembar). Status Siaga level III dipertahankan sejak akhir 2025, dengan rekomendasi resmi:
Tidak ada aktivitas dalam radius 5 km dari kawah Jonggring Saloko.
Waspada potensi lahar hujan di aliran sungai berhulu Semeru, terutama saat hujan lebat.
Penambangan pasir di Besuk Kobokan tetap dilarang karena risiko awan panas gugur.
PVMBG terus memantau melalui Pos Pengamatan Gunung Sawit dan Pos Klakah, ditambah drone termal dan seismograf untuk mendeteksi perubahan. Hingga siang 20 Februari, aktivitas vulkanik masih tinggi dengan tremor kontinu dan gempa vulkanik dalam yang cukup intens, meski belum ada indikasi erupsi besar dalam waktu dekat.
Respons Pemerintah dan Dampak Sosial
BPBD Lumajang membuka posko siaga 24 jam di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo. Masker, air bersih, dan logistik dasar sudah didistribusikan ke 15 desa terdampak hujan abu tipis. Pemerintah Kabupaten Lumajang mengimbau warga tidak panik dan tetap mengikuti rekomendasi PVMBG. Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memperpanjang penutupan jalur pendakian resmi melalui Ranu Pani, sementara beberapa titik pandang di sekitar gunung juga dibatasi aksesnya. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan siap membantu evakuasi jika aktivitas meningkat tajam, dan Kementerian ESDM melalui Badan Geologi terus mengawal pemantauan secara real-time. Di sisi lain, erupsi rutin ini mulai memengaruhi aktivitas wisatawan dan petani di sekitar kawasan—beberapa petani melaporkan abu tipis menutupi tanaman sayur dan kopi, meski belum sampai mengganggu panen secara signifikan.
Kesimpulan
Erupsi Gunung Semeru pada 19–20 Februari 2026 dengan kolom abu mencapai 500 meter menjadi pengingat bahwa gunung api tertinggi di Jawa ini masih aktif dan berada dalam fase erupsi berkelanjutan. Meski belum menimbulkan korban jiwa atau kerusakan besar, kejadian ini menegaskan pentingnya kewaspadaan terus-menerus terhadap potensi lahar hujan dan awan panas gugur. Status Siaga level III yang dipertahankan serta pemantauan ketat PVMBG menunjukkan upaya serius menjaga keselamatan masyarakat. Di tengah Februari 2026, erupsi rutin Semeru mengingatkan kita bahwa hidup berdampingan dengan gunung api membutuhkan kesiapsiagaan setiap saat—bukan hanya saat terjadi letusan besar, tapi juga di setiap hembusan kecil yang bisa menjadi awal dari ancaman lebih serius. Semoga aktivitas tetap terkendali dan tidak membahayakan warga sekitar.