ABAC 2026 Bahas Ketahanan Pangan Asia Pasifik. Pertemuan pertama Dewan Penasihat Bisnis APEC (ABAC) 2026 di Jakarta pada 7–9 Februari menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu topik utama diskusi. Dengan tema besar “Openness, Connectivity, Synergy”, para pemimpin bisnis dari 21 ekonomi APEC sepakat bahwa ancaman terhadap pasokan pangan di kawasan Asia-Pasifik semakin nyata akibat perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok global. Indonesia, sebagai tuan rumah, aktif mendorong pendekatan bisnis-led yang inklusif untuk memperkuat ketahanan pangan regional, termasuk kolaborasi teknologi, perdagangan terbuka, dan investasi di sektor pertanian berkelanjutan. Diskusi ini menghasilkan rekomendasi konkret yang akan dibawa ke tingkat menteri dan pemimpin APEC menjelang KTT akhir tahun di Shenzhen, menandakan bahwa ketahanan pangan bukan lagi isu sampingan, melainkan prioritas strategis kawasan. REVIEW FILM
Tantangan Ketahanan Pangan di Asia-Pasifik: ABAC 2026 Bahas Ketahanan Pangan Asia Pasifik
Asia-Pasifik menyumbang lebih dari separuh produksi pangan dunia, tapi kawasan ini juga paling rentan terhadap guncangan. Perubahan iklim menyebabkan pola curah hujan ekstrem, kekeringan berkepanjangan, dan banjir yang merusak lahan pertanian di Indonesia, Vietnam, Filipina, hingga Australia. Konflik geopolitik dan pembatasan ekspor oleh beberapa negara produsen besar memperburuk volatilitas harga pangan global. Pandemi dan gangguan logistik sebelumnya juga meninggalkan pelajaran bahwa rantai pasok pangan tidak boleh bergantung pada satu sumber atau rute saja.
Dalam sesi kelompok kerja ketahanan pangan, ABAC menyoroti bahwa UMKM pertanian—yang mendominasi produksi di banyak ekonomi APEC—masih kesulitan mengakses teknologi, pembiayaan, dan pasar ekspor. Inflasi pangan yang tinggi di beberapa negara juga menekan daya beli masyarakat rentan, sementara limbah pangan pascapanen mencapai 30–40 persen di negara berkembang. Para peserta sepakat bahwa tanpa kolaborasi lintas batas, target APEC untuk ekonomi inklusif dan berkelanjutan akan sulit tercapai.
Solusi Bisnis-Led yang Diusulkan: ABAC 2026 Bahas Ketahanan Pangan Asia Pasifik
Indonesia mengusulkan pendekatan bisnis-led yang praktis dan inklusif. Pertama, percepatan adopsi teknologi pertanian presisi seperti sensor IoT, drone pemetaan lahan, dan AI untuk prediksi cuaca serta optimalisasi irigasi. Kedua, penguatan perdagangan intra-APEC melalui penghapusan hambatan non-tarif dan harmonisasi standar keamanan pangan. Ketiga, investasi bersama di infrastruktur rantai dingin dan logistik untuk mengurangi limbah pascapanen serta menjaga stabilitas harga.
Beberapa ekonomi maju seperti Jepang dan Australia menawarkan kolaborasi teknologi dan pembiayaan hijau, sementara negara berkembang menekankan pentingnya transfer pengetahuan dan akses pasar yang adil bagi petani kecil. ABAC juga membahas penguatan sistem cadangan pangan regional dan mekanisme respons cepat saat krisis, seperti yang pernah dilakukan selama pandemi. Rekomendasi akhir menekankan bahwa ketahanan pangan harus melibatkan seluruh rantai nilai—from farm to fork—dengan UMKM sebagai tulang punggung.
Kesimpulan
Diskusi ketahanan pangan di ABAC 2026 di Jakarta menunjukkan kesadaran bersama bahwa Asia-Pasifik tidak bisa lagi mengandalkan pola lama dalam menghadapi ancaman pangan. Dengan perubahan iklim yang semakin ekstrem dan gangguan global yang tak terduga, kawasan ini butuh kolaborasi bisnis yang konkret, teknologi inklusif, dan perdagangan terbuka. Usulan Indonesia untuk pendekatan bisnis-led yang mengutamakan UMKM dan transfer teknologi mendapat dukungan luas, membuka peluang nyata bagi rekomendasi yang actionable menuju KTT APEC akhir tahun. Ketahanan pangan bukan sekadar soal produksi, melainkan soal stabilitas sosial dan ekonomi kawasan. Jika langkah-langkah ini diwujudkan, Asia-Pasifik bisa menjadi contoh bagi dunia dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Momentum Jakarta semoga terus bergulir menjadi aksi nyata bagi petani, konsumen, dan bisnis di seluruh kawasan.