Angin Kencang Guyur Aceh & Sulsel Hari Ini. Angin kencang dengan kecepatan 50–80 km/jam melanda sebagian besar wilayah Aceh dan Sulawesi Selatan sejak pagi 3 Februari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hembusan maksimum mencapai 85 km/jam di wilayah pesisir Aceh Barat dan 78 km/jam di pesisir Makassar. Akibatnya, puluhan pohon tumbang, atap rumah roboh, dan ribuan warga terdampak langsung. Hingga sore hari ini, BPBD Aceh dan Sulsel melaporkan lebih dari 1.200 rumah rusak ringan hingga berat, serta beberapa akses jalan utama terhalang pohon tumbang. Peringatan dini BMKG masih berlaku hingga malam ini, dengan potensi angin kencang disertai hujan lebat dan petir. REVIEW FILM
Wilayah Terdampak dan Kecepatan Angin: Angin Kencang Guyur Aceh & Sulsel Hari Ini
Di Aceh, angin kencang paling parah terjadi di wilayah pesisir barat dan selatan:
Aceh Barat dan Aceh Barat Daya: hembusan 70–85 km/jam, pohon tumbang di jalan nasional Meulaboh–Tapaktuan.
Aceh Selatan dan Simeulue: angin 60–75 km/jam, atap rumah dan warung roboh di kawasan pesisir.
Banda Aceh dan Aceh Besar: hembusan 50–65 km/jam, beberapa tiang listrik miring dan reklame roboh.
Di Sulawesi Selatan, angin kencang melanda pesisir barat dan selatan:
Makassar dan Maros: hembusan 65–78 km/jam, pohon tumbang di Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan AP Pettarani.
Gowa dan Takalar: angin 55–70 km/jam, atap rumah dan kandang ternak rusak di kawasan pesisir.
Pangkajene dan Kepulauan: hembusan hingga 80 km/jam di pulau-pulau kecil, gelombang tinggi 3–5 meter.
Angin ini dipicu oleh tekanan rendah di Laut Timor dan angin monsun baratan yang semakin kuat, ditambah bibit siklon tropis yang masih aktif di Samudra Hindia selatan Jawa.
Dampak terhadap Masyarakat dan Respons Darurat: Angin Kencang Guyur Aceh & Sulsel Hari Ini
Lebih dari 5.000 jiwa terdampak langsung di kedua provinsi. Di Aceh, sekitar 800 rumah rusak ringan hingga berat, terutama atap seng dan dinding kayu. Di Sulsel, lebih dari 400 rumah dan 150 tiang listrik roboh atau miring. Belum ada laporan korban jiwa, namun belasan warga mengalami luka ringan akibat tertimpa material dan terseret angin.
BPBD Aceh dan Sulsel langsung membuka posko gabungan sejak pagi 3 Februari. Petugas TNI-Polri dan relawan turun membantu membersihkan pohon tumbang dan mendirikan tenda darurat. Bantuan logistik berupa terpal, selimut, makanan siap saji, dan genset sudah mulai disalurkan ke desa-desa terdampak. PLN menurunkan tim untuk memulihkan listrik yang padam di sebagian besar wilayah pesisir Aceh dan Makassar. Gubernur Aceh dan Sulsel menyatakan status tanggap darurat di wilayah rawan dan meminta warga tetap di dalam rumah selama angin masih kencang.
Rekomendasi BMKG dan Langkah Antisipasi
BMKG memperpanjang status siaga hingga malam 4 Februari dengan potensi angin kencang 50–80 km/jam, hujan lebat, dan gelombang tinggi 3–5 meter masih mungkin terjadi di pesisir Aceh dan Sulsel. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap pohon tumbang, tiang listrik roboh, dan gelombang tinggi di pantai. Rekomendasi utama:
Hindari aktivitas di pantai dan lereng curam selama angin kencang.
Siapkan tas darurat berisi makanan, air, obat-obatan, senter, dan dokumen penting.
Pantau informasi cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG atau radio lokal.
Pemerintah daerah juga diimbau mempercepat pembersihan pohon tumbang dan memperkuat tiang listrik serta reklame yang rawan roboh.
Kesimpulan
Angin kencang yang mengguyur Aceh dan Sulsel hari ini telah merusak ratusan rumah dan memutus akses jalan di beberapa titik. Respons cepat BPBD, TNI-Polri, dan pemerintah provinsi sudah terlihat, namun potensi angin lanjutan hingga 4 Februari tetap menjadi ancaman serius. Peringatan BMKG harus menjadi perhatian utama bagi warga dan pemerintah daerah. Semoga angin segera mereda dan tidak menimbulkan korban lebih lanjut. Cuaca ekstrem memang ujian berat, tapi kesiapsiagaan dan solidaritas bisa menyelamatkan banyak nyawa.