Angin Kencang & Petir Dominasi Sulawesi Selatan. Cuaca ekstrem kembali menguasai Sulawesi Selatan sejak Rabu malam hingga Jumat pagi (11–13 Februari 2026). Angin kencang berkecepatan 60–85 km/jam disertai petir dan hujan lebat melanda hampir seluruh wilayah provinsi, terutama Makassar, Gowa, Maros, Pangkajene Kepulauan, dan Barru. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mencatat puncak angin tertinggi 82 km/jam di Pos Pengamatan Paotere pada Kamis malam. Akibatnya, puluhan pohon tumbang, tiang listrik roboh, dan ratusan rumah rusak ringan hingga berat. Hingga Jumat sore, sekitar 1.200 rumah terdampak, 8 orang luka ringan, dan satu orang meninggal dunia akibat tersambar petir di Kabupaten Gowa. BERITA TERKINI
Penyebab dan Kronologi Kejadian: Angin Kencang & Petir Dominasi Sulawesi Selatan
Fenomena ini dipicu oleh bibit siklon tropis yang aktif di Laut Flores dan Samudra Hindia selatan Jawa, ditambah pengaruh monsun barat daya yang kuat. Curah hujan mencapai 150–280 mm dalam 48 jam di sebagian besar wilayah Sulsel, dengan intensitas tertinggi di Gowa dan Maros. Angin kencang mulai terasa sejak Rabu malam pukul 20.00 WITA, mencapai puncak pada Kamis malam pukul 21.00–01.00 WITA. Petir menyambar berulang kali, terutama di kawasan perbukitan dan pesisir.
Di Makassar, angin merobohkan pohon besar di Jalan Urip Sumoharjo, Jalan AP Pettarani, dan kawasan Losari, menimpa beberapa mobil dan kios. Di Gowa, petir menyambar seorang petani berusia 42 tahun di Desa Bontomarannu saat ia berada di sawah, menyebabkan kematian. Di Barru dan Pangkep, ratusan atap rumah seng terlepas dan terbang hingga puluhan meter. Jaringan listrik terganggu di lebih dari 15 ribu pelanggan, sementara jalan poros Makassar–Parepare sempat tertutup pohon tumbang selama tiga jam.
Dampak dan Penanganan: Angin Kencang & Petir Dominasi Sulawesi Selatan
Dampak terasa luas. Sekitar 1.200 rumah rusak ringan hingga sedang, terutama atap seng dan dinding kayu. Lebih dari 2.500 jiwa mengungsi ke masjid, gereja, dan balai desa. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp15–20 miliar, terutama dari rumah, kendaraan, dan infrastruktur listrik. Di sektor pertanian, lahan jagung dan padi di Gowa serta Maros tertutup lumpur dan puing, mengancam hasil panen musim ini.
Pemprov Sulsel langsung menetapkan status siaga darurat selama tujuh hari. BPBD Sulsel bersama TNI-Polri, Tagana, PMI, dan relawan mendirikan posko utama di Makassar dan posko pendukung di lima kabupaten terdampak. Sebanyak 20 perahu karet dan tim evakuasi dikerahkan untuk menjangkau kawasan pesisir yang terisolasi. Bantuan logistik berupa paket sembako, air minum, selimut, dan masker sudah mulai disalurkan. PLN Sulsel memulihkan listrik secara bertahap, sementara Dinas Kesehatan membuka posko kesehatan darurat untuk mencegah penyakit pasca-bencana seperti ISPA dan infeksi kulit. Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyatakan provinsi siap mengalokasikan dana siaga Rp10 miliar dan koordinasi dengan BNPB untuk bantuan tambahan.
Kesimpulan
Angin kencang dan petir yang mendominasi Sulawesi Selatan selama tiga hari terakhir menjadi pengingat bahwa musim hujan tahun ini lebih ekstrem dari biasanya. Meski tidak menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, dampaknya terhadap rumah warga, infrastruktur, dan mata pencaharian cukup signifikan. Respons cepat pemerintah provinsi dan kabupaten patut diapresiasi, terutama dalam evakuasi dan distribusi bantuan. Namun kejadian ini juga menegaskan perlunya perbaikan struktural: pemangkasan pohon rawan di tepi jalan, penguatan struktur rumah sederhana, dan pembersihan saluran air secara rutin. Semoga cuaca segera membaik dan Sulsel bisa kembali normal tanpa harus menghadapi bencana serupa dalam waktu dekat. Warga pesisir dan perbukitan tetap diimbau waspada hingga akhir pekan ini.