Angin Kencang Rusak 50 Rumah di Ambon. Angin kencang yang menerjang Kota Ambon, Maluku, pada Kamis malam hingga Jumat dini hari (12–13 Februari 2026) menyebabkan kerusakan parah pada sekitar 50 rumah warga. Kejadian ini terjadi bersamaan dengan hujan deras dan petir yang melanda wilayah Ambon dan sekitarnya sejak sore hari. Kecepatan angin diperkirakan mencapai 60–80 km/jam, cukup untuk merobohkan pohon besar, mematahkan tiang listrik, dan mengangkat atap serta dinding rumah-rumah ringan. Hingga Jumat sore, petugas gabungan masih mendata kerugian dan mendirikan tenda pengungsian sementara bagi warga yang rumahnya tidak lagi layak huni. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ambon menyatakan fenomena ini terkait dengan bibit siklon tropis yang aktif di Laut Banda, sehingga warga diminta tetap waspada hingga Minggu mendatang. REVIEW FILM
Penyebab dan Dampak Langsung: Angin Kencang Rusak 50 Rumah di Ambon
Angin kencang dipicu oleh tekanan rendah di sekitar Laut Banda yang membawa angin kencang dan hujan lebat ke wilayah Maluku Tengah. Kecepatan angin maksimum tercatat 78 km/jam di Pos Pengamatan BMKG Marampa, dengan durasi puncak sekitar dua jam pada Kamis malam pukul 21.00–23.00 WIT. Pohon-pohon besar di kawasan perbukitan Ambon roboh dan menimpa rumah serta jaringan listrik, memperparah situasi.
Dampak paling terasa di Kelurahan Wainitu, Waiheru, dan Hative Kecil, di mana sekitar 50 rumah mengalami kerusakan berat hingga ringan. Sebanyak 18 rumah roboh total atau atapnya terlepas, 32 rumah lain mengalami kerusakan pada dinding, jendela, dan genteng. Sekitar 120 jiwa mengungsi ke masjid, gereja, dan balai RT terdekat. Dua orang mengalami luka ringan akibat tertimpa puing, dan satu anak kecil sempat terjebak di bawah reruntuhan atap sebelum berhasil dievakuasi. PLN mencatat 1.200 pelanggan mengalami pemadaman listrik akibat tiang roboh, sementara PDAM melaporkan gangguan distribusi air bersih di beberapa kawasan karena pipa bocor. Kerugian material sementara diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, terutama dari perabot rumah tangga, kendaraan roda dua, dan stok dagangan kecil yang terendam air hujan.
Upaya Penanganan dan Bantuan: Angin Kencang Rusak 50 Rumah di Ambon
Pemkot Ambon langsung menetapkan status siaga darurat selama tujuh hari sejak Kamis malam. BPBD Kota Ambon bersama TNI-Polri, Basarnas Ambon, Tagana, PMI, dan relawan setempat membentuk posko utama di Balai Kota dan posko pendukung di tiga kelurahan terdampak. Sebanyak delapan perahu karet dan tim evakuasi dikerahkan untuk menjangkau rumah-rumah di daerah rendah yang masih tergenang.
Bantuan logistik berupa paket sembako, air minum, selimut, tikar, dan obat-obatan sudah mulai disalurkan ke posko pengungsian. Gubernur Maluku Murad Ismail menyatakan provinsi siap mengalokasikan dana siaga dan koordinasi dengan BNPB untuk bantuan tambahan. PLN berupaya memulihkan listrik secara bertahap, sementara Dinas Kesehatan Kota mendirikan posko kesehatan darurat untuk memantau potensi penyakit pasca-bencana seperti ISPA dan diare. Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy mengimbau warga membersihkan saluran air dan pohon tumbang di lingkungan masing-masing agar genangan dan longsor susulan bisa dicegah. BMKG memperpanjang peringatan dini hingga Minggu malam karena potensi hujan sedang-lebat disertai angin kencang masih tinggi.
Kesimpulan
Angin kencang yang merusak sekitar 50 rumah di Ambon pada 12–13 Februari 2026 menjadi pengingat bahwa kota kepulauan seperti Ambon sangat rentan terhadap cuaca ekstrem di musim hujan. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini telah mengganggu kehidupan ratusan warga dan menimbulkan kerugian material yang signifikan. Respons cepat pemerintah kota dan provinsi patut diapresiasi, terutama dalam evakuasi dan distribusi bantuan. Namun solusi jangka panjang—seperti penguatan struktur rumah sederhana, penataan drainase kota, dan penebangan pohon rawan di tepi jalan—harus segera menjadi prioritas agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim angin kencang. Bagi warga yang terdampak, semoga proses pemulihan berjalan cepat dan rumah-rumah bisa segera kembali layak huni. Ambon memang sering diterpa angin kencang, tapi kali ini seharusnya jadi momentum untuk perbaikan yang lebih sistematis, bukan sekadar tanggap darurat tahunan.