Bibit Siklon Tropis Muncul, Hujan Ekstrem NTT. Bibit siklon tropis baru terdeteksi di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur pada 22 Januari 2026. BMKG langsung tingkatkan status waspada karena bibit ini berpotensi kuat dan bergerak mendekat ke wilayah Indonesia timur. Akibatnya, hujan ekstrem melanda hampir seluruh NTT sejak malam sebelumnya, menyebabkan banjir bandang, longsor, dan genangan parah di Kupang, Sumba Timur, Flores Timur, dan Timor Tengah Selatan. Hingga pagi 23 Januari, curah hujan mencapai 200–350 mm dalam 24 jam di beberapa titik, jauh melebihi normal Januari. Pemerintah daerah dan BNPB sudah gerak cepat, tapi dampaknya terasa berat bagi masyarakat yang masih pulih dari siklon sebelumnya. INFO GAME
Kronologi dan Penyebab Hujan Ekstrem NTT: Bibit Siklon Tropis Muncul, Hujan Ekstrem NTT
Bibit siklon ini muncul di koordinat sekitar 10°LS–110°BT, sekitar 400–500 km selatan Pulau Sumba. Sistem tekanan rendah ini cepat berkembang karena suhu permukaan laut yang hangat (di atas 28 °C) dan angin monsun baratan yang kuat. BMKG beri nama sementara Bibit Siklon 05S dan prediksi sistem ini akan menguat jadi siklon tropis dalam 24–48 jam ke depan. Gerakannya lambat ke arah utara-timur laut, membuat NTT dan sekitarnya berada di zona hujan paling deras. Hujan deras mulai malam 21 Januari, mencapai puncak dini hari 22 Januari. Di Kupang, curah hujan 320 mm dalam 18 jam; di Waingapu (Sumba Timur) 280 mm; dan di Ende 240 mm. Angin kencang hingga 60–80 km/jam ikut menyertai, bikin pohon tumbang dan atap rumah roboh. Banjir bandang langsung terjadi di daerah lereng dan lembah, sementara longsor tutup akses jalan utama di Flores dan Sumba.
Dampak terhadap Masyarakat dan Infrastruktur NTT: Bibit Siklon Tropis Muncul, Hujan Ekstrem NTT
Hingga pagi 23 Januari, banjir dan longsor sudah menewaskan 7 orang dan 14 luka-luka di NTT. Lebih dari 2.800 rumah terendam, 1.200 di antaranya rusak berat. Di Kupang, banjir genangi ratusan rumah di Kelurahan Oebufu, Kelapa Lima, dan Alak. Di Sumba Timur, longsor tutup jalan Trans-Sumba di beberapa titik, memutus akses antara Waingapu dan Lewa. Flores Timur dan Timor Tengah Selatan juga alami banjir sungai meluap, ribuan warga mengungsi ke posko-posko gereja dan sekolah. Infrastruktur terdampak parah: listrik padam di sebagian besar Kupang dan Waingapu, jaringan telepon dan internet terganggu, serta beberapa jembatan kecil ambruk. Bandara El Tari Kupang sempat ditutup sementara karena genangan di runway. Petani di lahan basah kehilangan tanaman padi dan jagung yang hampir panen, sementara nelayan tak bisa melaut karena gelombang tinggi mencapai 4–6 meter. BNPB dan BPBD NTT sudah distribusikan logistik darurat—tenda, makanan, air bersih, dan obat-obatan—tapi akses ke daerah terpencil masih sulit karena jalan rusak.
Respons Pemerintah dan Prediksi ke Depan
Gubernur NTT Viktor Laiskodat langsung koordinasi dengan BNPB dan TNI-Polri untuk evakuasi warga di zona rawan. Posko utama dibuka di Kupang dan Waingapu, dengan helikopter TNI AU dikerahkan untuk distribusi bantuan ke daerah terisolasi. Presiden Jokowi sudah dapat laporan dan instruksikan percepatan penanganan serta rekonstruksi cepat pasca-bencana. BMKG perpanjang peringatan dini hingga 25 Januari karena bibit siklon masih berpotensi menguat dan bawa hujan lebat lanjutan. Prediksi: jika bibit ini jadi siklon tropis penuh, NTT, NTB, dan Bali selatan bisa alami hujan ekstrem hingga 400 mm/hari plus angin kencang 80–100 km/jam. Gelombang tinggi 5–7 meter di Samudra Hindia selatan NTT juga ancam nelayan dan pelayaran. Pemerintah daerah diminta siaga tinggi, termasuk evakuasi preventif di zona rawan longsor dan banjir.
Kesimpulan
Munculnya bibit siklon tropis di selatan NTT langsung picu hujan ekstrem yang bikin banjir dan longsor melanda wilayah itu. Dampaknya sudah terasa berat—korban jiwa, ribuan rumah terendam, dan infrastruktur rusak. Respons pemerintah cepat, tapi tantangan besar masih menanti jika siklon ini terus menguat. NTT yang sudah sering kena bencana cuaca ekstrem butuh kesiapsiagaan lebih baik, mulai dari sistem peringatan dini hingga infrastruktur tahan bencana. Saat ini, prioritas utama tetap selamatkan nyawa dan pulihkan akses bantuan. Semoga angin berubah arah dan hujan reda secepatnya—NTT butuh jeda dari cuaca buruk ini.