Burundi Resmi Ketua Uni Afrika 2026. Burundi secara resmi mengambil alih kursi ketua Uni Afrika (African Union/AU) untuk periode 2026 mulai 15 Februari 2026. Penyerahan tongkat kepemimpinan dilakukan dalam sidang khusus Majelis Kepala Negara dan Pemerintahan AU di Addis Ababa, Ethiopia, di mana Presiden Burundi Évariste Ndayishimiye menerima palu kepemimpinan dari Presiden Mauritania Mohamed Ould Ghazouani selaku ketua tahun 2025. Tema kepemimpinan Burundi tahun ini adalah “Memperkuat Ketahanan Afrika melalui Integrasi Ekonomi dan Perdamaian Berkelanjutan”. Dengan populasi 13 juta jiwa dan ekonomi yang masih bergantung pada pertanian, kepemimpinan Burundi di AU menjadi ujian sekaligus kesempatan bagi negara kecil untuk memimpin agenda kontinental yang ambisius. BERITA TERKINI
Agenda Prioritas Burundi di AU 2026: Burundi Resmi Ketua Uni Afrika 2026
Burundi menetapkan lima prioritas utama selama masa kepemimpinannya. Pertama, percepatan implementasi Zona Perdagangan Bebas Benua Afrika (AfCFTA). Presiden Ndayishimiye menekankan perlunya negara-negara kecil seperti Burundi mendapat akses pasar yang lebih adil dan dukungan teknis agar tidak tertinggal. Kedua, penguatan mekanisme pencegahan konflik dan mediasi damai, terutama di kawasan Great Lakes dan Sahel. Burundi berkomitmen memperluas peran Misi Pemeliharaan Perdamaian AU di Somalia (ATMIS) dan misi transisi di Sudan.
Ketiga, fokus pada ketahanan pangan dan adaptasi perubahan iklim. Sebagai negara agraris, Burundi mengusulkan program “One Million Hectare Irrigation Initiative” yang akan diusung bersama AU dan mitra internasional. Keempat, reformasi tata kelola AU agar lebih efisien dan transparan, termasuk pengurangan birokrasi serta peningkatan kontribusi keuangan dari negara anggota. Kelima, pemberdayaan pemuda dan perempuan melalui agenda “Youth and Women Agenda 2026–2030” yang akan menjadi salah satu warisan kepemimpinan Burundi.
Tantangan dan Harapan Internasional: Burundi Resmi Ketua Uni Afrika 2026
Kepemimpinan Burundi mendapat sorotan karena rekam jejak hak asasi manusia yang masih menjadi catatan kritis dari komunitas internasional. Namun banyak analis melihat masa jabatan ini sebagai kesempatan bagi negara kecil untuk membuktikan bahwa kepemimpinan AU tidak harus selalu dipegang negara besar. Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Tiongkok menyatakan dukungan teknis dan finansial untuk agenda ketahanan pangan dan AfCFTA yang diusung Burundi.
Di dalam negeri, pemerintahan Ndayishimiye memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat citra positif di tengah tantangan ekonomi pasca-pandemi dan inflasi pangan. Presiden Burundi menyatakan bahwa kepemimpinan AU adalah “tanggung jawab bersama” dan berjanji menjalankan tugas dengan rendah hati serta fokus pada kepentingan rakyat Afrika.
Kesimpulan
Penyerahan kepemimpinan Uni Afrika kepada Burundi pada 15 Februari 2026 menandai babak baru dalam sejarah organisasi tersebut. Dengan agenda yang realistis dan fokus pada integrasi ekonomi, perdamaian, serta ketahanan iklim, Burundi berupaya membawa perspektif negara kecil ke panggung kontinental. Meski menghadapi tantangan besar baik internal maupun eksternal, kepemimpinan ini membuka peluang bagi Afrika untuk menunjukkan solidaritas dan kemampuan mengatasi masalah bersama. Dunia menantikan bagaimana Burundi menavigasi peran ini di tengah dinamika geopolitik global yang kompleks. Semoga masa jabatan 2026 menjadi momentum nyata bagi kemajuan bersama benua Afrika. Selamat bertugas bagi Presiden Évariste Ndayishimiye dan seluruh timnya. Afrika sedang menulis sejarah baru—dan kali ini suara negara kecil turut menentukan arahnya.