Demo Anti-Trump di Zurich, Polisi Pakai Gas Air Mata. Demonstrasi anti-Donald Trump meletus di Zurich, Swiss, pada malam 19 Januari 2026, tepat saat Presiden AS itu dijadwalkan tiba di Davos untuk World Economic Forum (WEF). Ribuan pengunjuk rasa memadati jalan-jalan kota, membakar bendera AS, dan merusak properti perusahaan Amerika seperti Starbucks dan McDonald’s. Situasi memanas hingga polisi terpaksa menggunakan gas air mata, meriam air, dan peluru karet untuk membubarkan kerumunan. Setidaknya 15 orang terluka, termasuk pengunjuk rasa dan petugas keamanan, sementara beberapa ditangkap karena vandalisme. Demo ini jadi simbol ketegangan global terhadap kebijakan Trump, terutama isu imigrasi, perubahan iklim, dan hubungan dengan Eropa. Zurich, yang biasanya tenang, berubah jadi medan konflik semalam, mengingatkan pada protes serupa saat Trump terakhir kali ke Davos. INFO GAME
Kronologi Demonstrasi dan Pemicu Demo Anti-Trump di Zurich: Demo Anti-Trump di Zurich, Polisi Pakai Gas Air Mata
Aksi dimulai sekitar pukul 18.00 waktu setempat di Bürkliplatz, pusat kota Zurich. Awalnya damai, dengan ribuan peserta dari kelompok kiri, aktivis lingkungan, dan mahasiswa yang membawa spanduk bertuliskan “Trump Not Welcome”, “Trump for Prison”, dan “Trump is a Criminal”. Mereka menentang kedatangan Trump ke WEF Davos, yang dimulai 20 Januari, dan menyoroti kebijakannya seperti ancaman tarif perdagangan ke Eropa serta rencana akuisisi Greenland. Demonstran berbaris menuju pusat kota, menyanyikan lagu protes dan meneriakkan slogan anti-kapitalisme. Namun, situasi berubah sekitar pukul 20.00 saat sekelompok demonstran bertopeng mulai melempar batu dan botol ke etalase toko. Bendera AS dibakar di tengah jalan, sementara grafiti anti-Trump disemprotkan di gedung-gedung. Polisi bilang kerusakan mencapai puluhan ribu franc Swiss, terutama di sekitar Bahnhofstrasse, kawasan belanja mewah. Demo ini terinspirasi dari gerakan serupa di Eropa, di mana Trump sering dikritik atas sikapnya terhadap NATO dan iklim.
Dampak Kekerasan dan Korban dari Demo Anti-Trump di Zurich: Demo Anti-Trump di Zurich, Polisi Pakai Gas Air Mata
Kekerasan meningkat saat demonstran memblokir jalan dan menolak bubar. Beberapa etalase perusahaan AS seperti Starbucks dan McDonald’s dipecah, simbol penolakan terhadap “imperialisme Amerika”. Asap tebal dari bendera terbakar dan flare membuat visibilitas rendah, memicu kepanikan di kalangan warga sekitar. Setidaknya 15 orang terluka: 10 pengunjuk rasa karena gas air mata dan peluru karet, serta 5 petugas polisi akibat lemparan batu. Tidak ada korban jiwa, tapi beberapa korban dirawat di rumah sakit karena iritasi mata parah dan luka memar. Trafik di Zurich terganggu berjam-jam, dengan kereta api dan bus dialihkan. Dampak ekonomi langsung terasa: toko-toko tutup lebih awal, dan wisatawan menghindari area tersebut. Aktivis bilang demo ini penting untuk suarakan oposisi terhadap Trump, yang baru saja menang pemilu ulang November lalu dan mulai terapkan kebijakan kontroversial seperti deportasi massal dan tarif baru ke UE. Namun, kekerasan ini justru dikecam banyak pihak, termasuk partai hijau Swiss yang ikut serta tapi menolak vandalisme.
Respons Polisi dan Pemerintah
Polisi Zurich mengerahkan sekitar 500 personel, termasuk unit anti huru-hara. Mereka awalnya beri peringatan verbal dan coba dialog dengan pemimpin demo. Tapi saat permintaan bubar tak digubris, mereka gunakan meriam air untuk dorong kerumunan mundur. Gas air mata dan peluru karet dikerahkan sekitar pukul 21.00, setelah demonstran duduk blokir jalan. Operasi berlangsung hingga tengah malam, dengan 20 orang ditangkap atas tuduhan kerusuhan dan vandalisme. Kepala polisi Zurich bilang tindakan itu “proporsional” untuk lindungi properti dan keselamatan publik. Pemerintah Swiss, di bawah Presiden Viola Amherd, kecam kekerasan tapi tegaskan hak demonstrasi damai. Mereka tingkatkan keamanan di Davos, dengan tambahan 5.000 polisi dan tentara untuk lindungi WEF dari protes lanjutan. Trump sendiri respons via X, sebut demo “dibiayai Soros” dan “buktikan mengapa kita butuh tembok lebih tinggi”. UE dukung Swiss tapi ingatkan penting dialog transatlantik. Investigasi independen sedang berlangsung untuk cek apakah polisi berlebihan.
Kesimpulan
Demo anti-Trump di Zurich jadi contoh nyata bagaimana kebijakan satu pemimpin bisa picu gelombang protes global. Dari awalnya damai jadi kekerasan, insiden ini tinggalkan luka bagi kota dan peserta, dengan gas air mata dan meriam air jadi alat pembubaran yang kontroversial. Sementara Trump tetap hadir di Davos, demo ini ingatkan betapa terpolarisasinya dunia politik saat ini. Swiss, negara netral, kini harus tangani dampaknya: rekonstruksi properti, dukungan korban, dan evaluasi protokol demo. Yang jelas, suara oposisi tak akan reda begitu saja—demo seperti ini mungkin baru awal dari gelombang baru di Eropa. Semoga dialog jadi solusi, bukan kekerasan, di tengah ketegangan internasional yang makin panas.