Pemukiman di Kebon Jeruk Tergenang Air Banjir. Hujan intensitas tinggi yang berlangsung lebih dari 12 jam sejak Selasa malam menyebabkan drainase di Kebon Jeruk tidak mampu menampung debit air. Genangan mulai muncul sekitar pukul 03.00 WIB dan semakin parah menjelang subuh. Kawasan yang paling terdampak adalah RW 03, RW 05, dan RW 07, di mana saluran sekunder tersumbat parah oleh sampah dan sedimen. Air setinggi 40-120 cm menggenangi rumah-rumah permanen dan semi-permanen, merendam perabotan, kendaraan roda dua, hingga stok makanan warga. Petugas gabungan tiba sejak pagi untuk memompa air dan mendistribusikan bantuan logistik, tapi hingga sore genangan masih belum surut sepenuhnya karena hujan sporadis terus turun. INFO GAME
Penyebab Banjir dan Kondisi Drainase: Pemukiman di Kebon Jeruk Tergenang Air Banjir
Saluran air utama di sepanjang Jalan Perjuangan dan gang-gang masuk Kebon Jeruk ditemukan penuh dengan tumpukan sampah plastik, karung, ranting, serta endapan lumpur tebal. Sumbatan ini membuat air hujan yang seharusnya mengalir ke kali terdekat justru terbendung dan meluap ke pemukiman. Warga setempat mengeluhkan bahwa pembersihan saluran hanya dilakukan sporadis dan tidak menyeluruh, terutama di bagian yang sulit dijangkau alat berat. Selain itu, banyak rumah yang membangun bangunan di atas badan saluran atau menutup inlet drainase untuk perluasan halaman, memperburuk aliran air. Hujan dengan curah lebih dari 150 mm dalam 12 jam menjadi pemicu langsung, tapi akar masalahnya sudah berlangsung lama: kapasitas drainase tidak lagi sesuai dengan pertumbuhan pemukiman dan volume sampah yang terus meningkat. Beberapa warga menyebut banjir seperti ini sudah rutin setiap musim hujan, terutama bila hujan datang bersamaan dengan rob dari arah utara.
Dampak bagi Warga dan Upaya Penanganan: Pemukiman di Kebon Jeruk Tergenang Air Banjir
Ratusan rumah terendam, dengan ketinggian air bervariasi dari 30 cm hingga lebih dari satu meter di titik terendah. Warga melaporkan kerusakan pada perabotan rumah tangga, motor yang terendam, dan stok makanan yang rusak. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan karena sulit bergerak di genangan. Beberapa keluarga mengungsi ke rumah saudara atau posko darurat yang disiapkan di balai RW setempat. Petugas mendistribusikan paket makanan siap saji, air minum, dan obat-obatan dasar sejak pagi. Pompa air portabel dikerahkan di beberapa titik, tapi proses pengurasan lambat karena volume air besar dan saluran pembuangan masih tersumbat. Tim kesehatan juga turun untuk mencegah risiko penyakit akibat air kotor, terutama leptospirosis dan diare. Warga terdampak mengaku frustrasi karena banjir serupa terjadi hampir setiap tahun tanpa solusi permanen, meski sudah sering disampaikan ke kelurahan dan kecamatan.
Langkah Pencegahan dan Harapan ke Depan
Pemerintah setempat menyatakan akan melakukan pembersihan saluran secara intensif mulai Kamis pagi, termasuk menggunakan alat berat untuk mengangkat sedimen dan sampah di saluran primer. Ada rencana pemasangan grill filter sampah di beberapa titik inlet serta sosialisasi lebih masif soal pembuangan sampah. Beberapa warga mengusulkan normalisasi saluran yang sudah dangkal dan pembuatan sumur resapan tambahan di kawasan padat. Namun, tanpa penegakan aturan ketat terhadap pembuangan sampah dan penertiban bangunan liar di badan saluran, banjir serupa hampir pasti terulang. Camat Kebon Jeruk menjanjikan koordinasi lebih baik dengan dinas terkait untuk mempercepat penanganan genangan di musim hujan ini. Warga berharap solusi tidak hanya bersifat tambal sulam, melainkan perbaikan sistematis agar pemukiman mereka tidak lagi menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras.
Kesimpulan
Banjir di pemukiman Kebon Jeruk kali ini kembali menyoroti masalah klasik Jakarta Barat: drainase tersumbat dan kapasitas tidak memadai. Hujan deras menjadi pemicu, tapi penyebab utamanya adalah pengelolaan sampah buruk dan kurangnya perawatan saluran secara berkala. Dampaknya terasa berat bagi warga yang rumahnya terendam dan aktivitas sehari-hari terganggu. Penanganan darurat sudah berjalan, tapi pencegahan jangka panjang harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terus berulang. Kebon Jeruk butuh solusi nyata—bukan janji tahunan—supaya warganya bisa hidup lebih tenang di musim hujan. Semoga genangan cepat surut dan perbaikan segera menyusul.