Pocong di SD Sinjai Sulawesi Selatan Itu Cuman Prank. Kabar viral tentang penampakan pocong di halaman SD Negeri 1 Sinjai, Sulawesi Selatan, sempat menghebohkan warga dan pengguna media sosial pada awal Januari 2026. Video rekaman yang menunjukkan sosok berbalut kain kafan bergerak di malam hari langsung menyebar luas, memicu berbagai spekulasi mulai dari hantu sungguhan hingga gangguan mistis. Namun, setelah penyelidikan mendalam, pihak sekolah dan kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut hanyalah prank yang dilakukan oleh sekelompok remaja. Kejadian ini menjadi pengingat betapa mudahnya informasi hoaks menyebar di era digital, terutama yang berkaitan dengan hal-hal mistis. REVIEW WISATA
Kronologi Kejadian dan Penyebaran Video: Pocong di SD Sinjai Sulawesi Selatan Itu Cuman Prank
Insiden bermula pada malam 3 Januari 2026, ketika beberapa siswa dan warga sekitar melaporkan melihat sosok putih bergerak di area sekolah. Video berdurasi sekitar 30 detik yang diambil menggunakan ponsel menunjukkan sosok tersebut melayang pelan di halaman sekolah, lengkap dengan kain kafan dan gerakan khas pocong. Dalam hitungan jam, video tersebut beredar di grup WhatsApp warga, kemudian naik ke platform media sosial dengan caption sensasional seperti “Pocong nyata di SD Sinjai” atau “Sekolah berhantu”. Ribuan orang langsung bereaksi, sebagian ketakutan, sebagian lagi menuntut penjelasan dari pihak sekolah. Keesokan harinya, kepala sekolah menggelar konferensi pers singkat untuk menenangkan masyarakat.
Pengakuan Pelaku dan Proses Penyelidikan: Pocong di SD Sinjai Sulawesi Selatan Itu Cuman Prank
Pada 5 Januari, dua remaja berusia 16 dan 17 tahun, siswa kelas dua SMA di wilayah yang sama, mengaku menjadi dalang prank tersebut. Mereka menggunakan kain putih panjang yang diikat seperti pocong, ditambah lampu LED kecil untuk efek cahaya, serta tali nilon yang digantung di pohon agar sosok bisa “bergerak” tanpa terlihat orangnya. Rekaman dibuat sekitar pukul 22.00 malam, saat sekolah sudah sepi. Polisi setempat membuka penyelidikan setelah mendapat laporan dari warga, dan kedua pelaku akhirnya menyerahkan diri secara sukarela. Mereka menyatakan niatnya hanya untuk bercanda dan tidak menyangka video akan viral secepat itu. Kedua remaja diminta menandatangani surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan serupa dan meminta maaf kepada pihak sekolah serta masyarakat.
Dampak dan Respons Masyarakat
Prank ini sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua siswa, terutama karena sekolah sering digunakan untuk kegiatan malam seperti pengajian atau ekstrakurikuler. Beberapa warga sempat menghindari lewat di depan sekolah saat malam hari. Pihak sekolah langsung memasang papan pengumuman dan melakukan komunikasi aktif melalui grup orang tua untuk menjelaskan fakta. Guru dan kepala sekolah juga mengadakan pertemuan dengan siswa untuk membahas bahaya prank yang bisa menimbulkan kepanikan massal. Masyarakat akhirnya merespons dengan bijak setelah fakta terungkap, meski sebagian tetap mengkritik pelaku karena memanfaatkan isu mistis yang sensitif di daerah tersebut.
Kesimpulan
Penampakan pocong di SD Sinjai, Sulawesi Selatan, ternyata hanya prank yang dibuat oleh dua remaja yang ingin bercanda. Kejadian ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkannya, terutama di tengah maraknya konten sensasional di media sosial. Prank semacam ini tidak hanya menimbulkan ketakutan, tapi juga mengganggu ketenangan masyarakat dan aktivitas sekolah. Semoga kejadian ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih bertanggung jawab dalam membuat dan membagikan konten, sehingga hal-hal serupa tidak terulang di masa depan.