Siswa SD Korban Pencabulan di Tangsel Alami Trauma. Insiden ini mencuat pada pertengahan Januari 2026 setelah 13 orang tua murid mendatangi UPTD PPA Tangsel. Mereka melaporkan dugaan pelecehan oleh guru berinisial YP berusia 55 tahun, yang menjabat sebagai wali kelas. Korban berjumlah hingga 13 siswa, semuanya laki-laki dari kelas yang sama. Sembilan di antaranya sudah resmi dilaporkan ke Polres Tangsel. Kepala UPTD PPA Tri Purwanto mengonfirmasi bahwa korban mengalami gangguan psikis akibat perbuatan tersebut. Saat ini, salah satu korban sedang menjalani visum di rumah sakit setempat untuk memastikan kondisi kesehatannya. Kasus ini menimbulkan kekecewaan mendalam karena pelaku adalah figur yang seharusnya melindungi anak didiknya. INFO GAME
Dampak Trauma Psikis pada Korban: Siswa SD Korban Pencabulan di Tangsel Alami Trauma
Korban mengalami gangguan psikis yang cukup serius. Meski secara fisik terlihat baik, kondisi mental mereka terganggu akibat pengalaman traumatis. UPTD PPA menyatakan bahwa anak-anak ini menunjukkan tanda-tanda ketakutan, kecemasan, dan kesulitan beradaptasi kembali ke lingkungan sekolah. Beberapa korban kesulitan tidur, mudah terkejut, atau menarik diri dari interaksi sosial. Trauma ini bisa berlangsung lama jika tidak ditangani segera. Pendampingan psikologis menjadi prioritas utama. Korban sedang menjalani pemeriksaan psikologi anak untuk menilai tingkat kerusakan emosional. Gangguan psikis ini tidak hanya memengaruhi prestasi belajar, tapi juga perkembangan kepribadian di usia dini.
Proses Pendampingan dan Penanganan Hukum: Siswa SD Korban Pencabulan di Tangsel Alami Trauma
UPTD PPA Tangsel langsung turun tangan dengan pendampingan komprehensif. Mereka mendampingi korban mulai dari proses pelaporan di polres, visum di RSUD Pamulang, hingga pemeriksaan psikologi lanjutan. Pendampingan ini bertujuan memastikan korban merasa aman dan didukung sepanjang proses hukum. Polres Tangsel sedang menyelidiki kasus ini dengan mengumpulkan keterangan saksi dan bukti. Orang tua korban berperan aktif dalam mendorong penegakan hukum agar pelaku mendapat sanksi tegas. Pendampingan juga melibatkan koordinasi dengan psikolog anak untuk membantu pemulihan trauma. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi beban emosional korban dan mencegah dampak jangka panjang seperti gangguan stres pasca-trauma.
Perlindungan Anak di Lingkungan Sekolah
Kasus ini menyoroti kerentanan anak di lingkungan sekolah. Guru sebagai figur otoritas seharusnya menjadi tempat aman, tapi justru menjadi pelaku dalam beberapa kejadian serupa. Hal ini memicu diskusi tentang penguatan sistem pengawasan dan pelatihan anti-kekerasan bagi pendidik. Orang tua diimbau lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti penurunan semangat belajar atau ketakutan berlebih. Sekolah perlu menerapkan mekanisme pelaporan cepat dan rahasia untuk kasus kekerasan. Pemerintah daerah dan lembaga terkait harus memperketat seleksi guru serta rutin melakukan sosialisasi pencegahan kekerasan seksual. Kasus ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak memerlukan keterlibatan semua pihak, dari keluarga hingga institusi pendidikan.
Kesimpulan
Siswa SD korban dugaan pencabulan di Tangsel mengalami trauma psikis yang mendalam, menuntut penanganan segera dan holistik. Dengan pendampingan intensif dari UPTD PPA serta proses hukum yang berjalan, diharapkan korban bisa pulih secara bertahap. Kasus ini juga menjadi panggilan untuk memperkuat perlindungan anak di sekolah agar kejadian serupa tidak terulang. Trauma yang dialami anak-anak ini bukan akhir, tapi awal dari upaya pemulihan dan pencegahan yang lebih baik. Masyarakat perlu terus mendukung korban dan menuntut pertanggungjawaban penuh agar keadilan bisa ditegakkan.