TransJ Perkuat SOP Mengenai Pendampingan Disabilitas. TransJ secara resmi memperkuat Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait pendampingan penumpang berkebutuhan khusus atau disabilitas mulai 13 Januari 2026; langkah ini diambil setelah evaluasi mendalam terhadap layanan selama setahun terakhir dan masukan langsung dari komunitas penyandang disabilitas serta organisasi pendukung, SOP baru menekankan pelatihan wajib bagi seluruh awak bus, peningkatan fasilitas aksesibilitas di halte, serta mekanisme pelaporan yang lebih cepat jika terjadi kendala, perubahan ini bertujuan memastikan setiap penumpang dengan kebutuhan khusus mendapatkan pelayanan yang setara, aman, dan bermartabat, terutama di tengah meningkatnya jumlah pengguna transportasi umum dari kelompok tersebut. INFO SAHAM
Detail Perubahan SOP yang Diterapkan: TransJ Perkuat SOP Mengenai Pendampingan Disabilitas
SOP baru mewajibkan setiap awak bus mengikuti pelatihan ulang minimal dua kali setahun dengan materi yang lebih mendalam, mencakup cara berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dasar, teknik membantu naik-turun bus bagi pengguna kursi roda, serta pengenalan berbagai jenis disabilitas tak kasat mata seperti autisme atau gangguan penglihatan, awak bus kini juga dilengkapi kartu identifikasi khusus yang menandakan mereka telah lulus pelatihan pendampingan disabilitas, di sisi infrastruktur, seluruh halte utama akan dipasangi ramp permanen dengan kemiringan standar, tombol panggil prioritas yang terhubung langsung ke awak bus, serta penandaan braille pada nomor halte dan rute, mekanisme pelaporan juga dipercepat melalui aplikasi resmi dan hotline 24 jam yang langsung ditindaklanjuti dalam waktu maksimal 30 menit, perubahan ini diharapkan mengurangi keluhan terkait penolakan naik atau kurangnya bantuan yang selama ini masih sering dilaporkan.
Proses Sosialisasi dan Pelatihan Awak Bus: TransJ Perkuat SOP Mengenai Pendampingan Disabilitas
Pelatihan perdana SOP baru telah dilaksanakan pada 10-12 Januari 2026 dengan melibatkan lebih dari 1.200 awak bus secara bergilir; sesi ini tidak hanya berupa teori tapi juga praktik langsung menggunakan simulasi kursi roda, tongkat tunanetra, dan alat bantu dengar, instruktur berasal dari organisasi penyandang disabilitas sehingga materi terasa lebih relevan dan autentik, setiap peserta harus lulus uji kompetensi sebelum mendapatkan sertifikat yang diperbarui setiap tahun, sosialisasi juga dilakukan ke masyarakat melalui kampanye di media sosial dan stasiun televisi lokal, dengan tujuan meningkatkan kesadaran bahwa transportasi umum harus inklusif bagi semua, awak bus yang telah lulus pelatihan akan mengenakan lencana khusus sebagai tanda bahwa mereka siap memberikan pendampingan ekstra, langkah ini diharapkan membangun kepercayaan penumpang berkebutuhan khusus untuk lebih sering menggunakan layanan TransJ.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun SOP baru mendapat sambutan positif dari komunitas, tantangan tetap ada terutama pada kepatuhan awak bus di lapangan dan kesiapan infrastruktur di halte-halte kecil yang belum sepenuhnya diupgrade; beberapa kasus penolakan naik masih mungkin terjadi jika awak bus baru atau kurang pengalaman, untuk mengatasinya TransJ berencana menerapkan sistem monitoring melalui kamera di dalam bus dan laporan digital dari penumpang yang bisa langsung dievaluasi, harapan ke depan adalah meningkatnya jumlah penumpang disabilitas yang merasa nyaman menggunakan transportasi umum, sehingga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi atau layanan khusus yang lebih mahal, SOP ini juga diharapkan menjadi contoh bagi operator transportasi lain di kota-kota besar untuk mengadopsi standar serupa, sehingga aksesibilitas menjadi norma, bukan pengecualian.
Kesimpulan
Penguatan SOP pendampingan disabilitas oleh TransJ menjadi langkah maju dalam mewujudkan transportasi umum yang benar-benar inklusif dan ramah bagi semua kalangan; dengan pelatihan intensif, peningkatan fasilitas, serta mekanisme pelaporan yang lebih responsif, layanan ini diharapkan bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi penumpang berkebutuhan khusus, meskipun masih ada tantangan di lapangan, komitmen ini menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki layanan secara berkelanjutan, kini semua mata tertuju pada implementasi di lapangan di mana keberhasilan SOP baru akan diukur dari pengalaman nyata penumpang, semoga perubahan ini terus berlanjut dan menjadi standar emas bagi transportasi publik di masa depan.