
Kondisi Polres Jaktim Usai Kebakaran Akibat Molotov. Malam tanggal 29 Agustus 2025 menjadi momen mencekam di Jakarta Timur ketika Polres Metro Jakarta Timur (Jaktim) diserang massa yang melemparkan bom molotov, menyebabkan kebakaran dan kerusakan signifikan. Insiden ini merupakan bagian dari gelombang protes yang dipicu oleh kematian seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang tewas akibat ditabrak kendaraan taktis Brimob. Kerusuhan ini tidak hanya menyasar Polres Jaktim, tetapi juga lima polsek di wilayah tersebut, menimbulkan pertanyaan besar tentang penyebab aksi anarkis ini dan potensi eskalasinya di Indonesia. Artikel ini akan mengulas kondisi terkini Polres Jaktim, alasan di balik aksi pelemparan molotov, dan apakah kerusuhan ini berisiko berkepanjangan. BERITA VOLI
Kondisi Terkini Polres Jaktim
Pagi ini, 30 Agustus 2025, situasi di sekitar Polres Metro Jakarta Timur di Jalan Matraman Raya mulai kondusif, meski suasana masih tegang. Kebakaran akibat ratusan bom molotov yang dilemparkan massa telah menghanguskan tujuh kendaraan, termasuk dua truk, satu ambulans, satu Kijang pick-up, satu elf, dan dua double cabin. Bangunan Polres sendiri tidak terbakar habis, tetapi beberapa bagian mengalami kerusakan ringan akibat lemparan batu dan petasan. Pemadam kebakaran masih melakukan pendinginan di lokasi untuk memastikan tidak ada titik api tersisa. Polisi telah mengamankan satu pelaku, dan penyelidikan sedang dilakukan untuk mengidentifikasi pelaku lain serta mendata kerugian total. Selain Polres, lima polsek di Jaktim—Matraman, Makasar, Ciracas, Jatinegara, dan Cipayung—juga diserang, dengan Polsek Ciracas dan Jatinegara mengalami kerusakan cukup parah, termasuk kebakaran pada bagian gerbang dan fasilitas. Polisi tetap bersiaga untuk mencegah kerusuhan susulan, sementara warga sekitar mulai berkumpul untuk melihat sisa-sisa kerusakan, meski massa aksi sudah bubar.
Kenapa Para Massa Sampai Melemparkan Molotov
Aksi pelemparan molotov dipicu oleh kemarahan massa atas kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun, yang tewas setelah ditabrak dan dilindas kendaraan taktis Brimob pada 28 Agustus 2025 di Pejompongan, Jakarta Pusat. Insiden ini terjadi saat demonstrasi menentang kebijakan tunjangan DPR, yang dianggap tidak sensitif terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Video tragis kejadian tersebut viral di media sosial, memicu kemarahan komunitas ojek online dan warga lainnya. Massa menyalurkan kemarahan mereka dengan menyerang fasilitas kepolisian, termasuk Polres Jaktim, yang dianggap sebagai simbol otoritas. Selain itu, ketegangan diperparah oleh persepsi bahwa polisi bertindak represif, seperti penggunaan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan demonstran. Aksi anarkis ini juga diduga melibatkan kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi untuk menciptakan kekacauan, dengan beberapa massa terlihat membawa bendera Jolly Roger dari manga One Piece, menambah kompleksitas motif di balik kerusuhan.
Apakah Kerusuhan Ini Akan Berjalan Dengan Lama di Indonesia
Potensi kerusuhan berkepanjangan di Indonesia tergantung pada beberapa faktor. Pertama, respons kepolisian terhadap kasus Affan Kurniawan menjadi kunci. Polri telah berjanji menangani kasus ini secara transparan, dengan tujuh anggota Brimob yang terlibat dalam insiden tersebut diperiksa dan dikenakan sanksi penempatan khusus hingga 17 September 2025. Jika penegakan hukum dianggap adil oleh publik, kemarahan massa berpotensi mereda. Namun, jika keadilan tidak terpenuhi, protes bisa kembali memanas, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Kedua, isu tunjangan DPR yang memicu demonstrasi awal masih menjadi bara dalam sekam. Ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan ini, ditambah kondisi ekonomi yang sulit, dapat memicu gelombang protes baru jika tidak ada langkah konkret dari pemerintah untuk merespons aspirasi rakyat. Ketiga, sejarah kerusuhan di Indonesia, seperti kerusuhan Mei 2019, menunjukkan bahwa aksi anarkis bisa berlangsung lama jika dipicu oleh isu sensitif dan didukung oleh kelompok tertentu. Namun, upaya Pemerintah Kota Jakarta Timur untuk melibatkan tokoh masyarakat dalam mencegah eskalasi, serta status siaga polisi, dapat meredam potensi kerusuhan jangka panjang.
Kesimpulan: Kondisi Polres Jaktim Usai Kebakaran Akibat Molotov
Kondisi Polres Jaktim pasca-serangan molotov pada 29 Agustus 2025 menunjukkan kerusakan signifikan pada kendaraan dan beberapa fasilitas, meski situasi mulai terkendali pada pagi ini. Kemarahan massa yang dipicu oleh kematian Affan Kurniawan dan ketidakpuasan terhadap kebijakan DPR menjadi pemicu utama aksi anarkis ini. Meski potensi kerusuhan berkepanjangan ada, langkah cepat kepolisian dalam menangani kasus dan upaya preventif pemerintah daerah dapat meredam eskalasi. Insiden ini menjadi pengingat bahwa komunikasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat perlu diperkuat untuk mencegah konflik serupa. Ke depan, transparansi dalam penegakan hukum dan respons terhadap aspirasi rakyat akan menentukan apakah ketegangan ini dapat segera mereda atau justru membesar.